Menyimak dan Menikmati Jazz
Posted on: 01/15/2015, by : Kurator Arsip
Share on Facebook1.1kTweet about this on TwitterShare on Google+0Share on LinkedIn0Pin on Pinterest0Share on Reddit0Email this to someone

 

Bagaimana cara menikmati Jazz?  Bagaimana cara mencerna apa yang didengar?  Apa yang didengarkan dari Jazz?  Mengapa Jazz terdengar hanya seperti nada-nada yang dijejalkan saja?  Ini hanya sedikit dari banyak pertanyaan yang sudah sering saya dengar dari berbagai pihak yang baru saja mulai mendengar Jazz, atau bahkan dari mereka yang mengaku sudah sering mendengar Jazz.

Banyak juga yang akhirnya mundur teratur karena menurut mereka Jazz terlalu rumit untuk dapat dimengerti.  Ini sebuah hal yang patut disayangkan karena hanya dengan meluangkan sedikit waktu untuk mempelajari sisi-sisi terdasar dari Jazz, Anda dapat membuka pintu menuju sebuah pengembaraan yang unik dan membawa diri Anda ke dalam sebuah dimensi baru dalam menikmati musik ini.

Berikut beberapa saran saya yang sekiranya dapat membantu Anda:

  1. Mulailah dengan memperkenalkan diri Anda kepada sedikit sejarah Jazz.  Hal ini dapat dilakukan dengan membaca berbagai artikel di Internet, dan yang pasti dengan mendengarkan berbagai contoh lagu klasik hasil karya permainan musisi-musisi seperti Louis Armstrong, Ella Fitzgerald, Count Basie, Charlie Parker, Miles Davis, John Coltrane, dan lain-lain;
  2. Perkenalkan juga diri Anda kepada berbagai style Jazz seperti Dixie, Swing, Bebop, Cool, Free, Jazz Rock, dan lain-lain;
  3. Dari berbagai contoh lagu dan style tersebut, perhatikanlah perbedaan style, melodi, dan ritmenya.  Ini adalah dasar-dasar dari variasi yang kemudian dapat dikembangkan oleh sang musisi dalam berimprovisasi;
  4. Amati juga olah komunikasi dari musisi-musisi yang bermain dan bagaimana cara mereka berinteraksi satu sama lain;
  5. Pergilah menikmati Jazz yang dimainkan live.  Coba bandingkan apa yang Anda dengar di rumah dengan yang dimainkan di hadapan Anda.  Apakah ada kesamaan atau mungkin perbedaan?
  6. Jangan malu-malu untuk mendekati sang musisi dan mulai bertanya atau meminta pendapat tentang musik yang mereka mainkan.  Mereka merupakan nara sumber penting untuk menambah pengetahuan Anda.

Pada umumnya apresiasi musik merupakan pengalaman pribadi yang sangat intim dan berbeda nilainya bagi setiap pendengar; tentunya secara khusus Jazz juga demikian adanya. Jazz merupakan karya seni unik di mana musik yang dimainkan adalah sebuah bentuk ekspresi timbal balik antara sang musisi dan pendengar.  Jazz perlu didengar, dialami, dihayati, dan yang terpenting, disimak.  Semakin banyak Anda menyimak, semakin dalam pengertian dan apresiasi yang akan Anda miliki atas seni ini.  Menikmati Jazz tidak sukar selama Anda memiliki keinginan dan ketertarikan untuk terjun masuk dan merangkulnya. (ADT)

Tulisan ini pernah diterbitkan di newsletter WartaJazz (Java Jazz Festival) dan WartaJazz.com.

4 thoughts on “Menyimak dan Menikmati Jazz

  1. Majoelah moesik Jazz Indonesia… sangat bermanfaat untuk penggemar dan pencinta musik Jazz, terima kasih

  2. Min , kata orang musik jazz itu ngantuk, eeh pas ane maenin di gitar kesayangan ane..gayanya ala ala petikan earl klugh lah…eh tanpa terasa malah ane yang beneran tidur :v , sabil tangan tetap megang gitar 🙁

  3. Sudah saatnya bangsa sebesar Indonesia memiliki pusat dokumentasi, dlm hal ini berhubungan dg musik jazz.Terima kasih dan salam jazz.

  4. saya dengar jazz dari tetangga saya yang ngoleksi kaset rien jamain, margie sieger. lebih paham setelah denger indonesian jazz vocal, dian pp dan intermezzo. bisa faham apa itu swing, latin jazz, samba atau modern jazz. jazz indonesia masih belum berkembang karena masih sering memperdebatkan kadar jazznya murni atau nggak. di zaman sekarang ini, jazz bukan musik eksklusif yg mengiringi pesta dansa dgn lagu bebop dan swing, yg liat minum bir dan memeluk teman kencan. generasi jazz baru tidak muncul , melulu nama-nama lama. untung ada java jazz . kenapa untuk mempopulerkan jazz harus mengaransir lagu-lagu yg bukan jazz, jd org bertanya jazz itu apa, lagunya atau musiknya. jazz terlalu egois karena menomorsatukan musik instrumentalia ketimbang komposisi lagu. org indonesia kan kupingnya suka mendengar yg gampangan bukan yg ribet. penggiat jazz harus berupaya keras memasarkan musik jazz nggak boleh berhenti dan komunitasnya nggak boleh eksklusif bahwa jazz lebih dari musik yang lain. karena nada do sampai sol hanya Tuhan penemu-Nya. Bravo Arsip jazz indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »