#BincangMinggu Bersama Arsip Jazz Indonesia
Posted on: 08/13/2015, by : Kurator Arsip
Share on Facebook1.1kTweet about this on TwitterShare on Google+0Share on LinkedIn0Pin on Pinterest0Share on Reddit0Email this to someone

 

Pada tanggal 25 Juli, 2015, Arsip Jazz Indonesia diajak berbincang di Twitter melalui program #BincangMinggu yang dimotori oleh Intan Anggita P. (Twitter @badutromantis). Berikut hasil rangkuman bincang-bincang tersebut. Tulisan ini dapat pula ditemukan di http://eargasmme.com.

Dear @arsipjazz mari mulai #bincangminggu. Bagaimana asal mula @arsipjazz lahir dan siapa saja yang mengawalinya?

Silakan dan terima kasih diajak berbincang malam ini. Bermula dari kegemaran saya dengan jazz. Lalu saya sangat prihatin dengan minimnya info sejarah jazz Indonesia. Saya mulai meneliti mendalam sejarah itu. Dan ternyata sangat sukar. Namun kesukaran itu justru memecut. Tahun ini genap 25 tahun saya meneliti ke sepenjuru dunia dan sampai sekarangpun belum selesai. Tetap sukar.

Penghimpunan itu lalu membuat saya berpikir lebih baik difokus. Dus saya menulis naskah buku dan membentuk Arsip Jazz Indonesia (AJI). Bersama beberapa rekan akhirnya resmi AJI kami bangun 2010 sbg lembaga nirlaba dengan bekal penghimpunan data-data tersebut.

Misi kami: melestarian & mewartakan sejarah Jazz di Indonesia. Dengan AJI kami harap lebih terfokus kinerja kami. Untuk lebih mendalam tentang kami silahkan mampir ke situs ini, http://www.arsipjazzindonesia.org  dan juga di Facebook. Demikian sekilas latar belakang @arsipjazz, maksud & misi kami. Sejarah sangat penting dus perlu dipelajari..

Darimana Arsip Jazz memulai pengarsipan, pastinya sangat tercecer dan mencarinya cukup sulit?

Tentunya dimulai di Indonesia melibatkan musisi2 yang mau membantu. Lalu mulai masuk perpustakaan, dll  Tapi pada dasarnya kita itu minim pengarsipan. Bahkan musisi pun banyak yg tak ingat atau punya rekaman mereka. 1 lagi alasan AJI dibentuk agar semuanya terpusat & terfokus dus orang2 yg perlu info tak kelimpungan.

Lalu kami perluas usaha ke luar negeri & ternyata banyak juga info terkubur. Kami betul-betul tak duga sebelumnya. Alasan: banyak musisi jazz era awal yang pergi dr Indonesia krn setelah proklamasi mereka tak dapat tinggal lagi.

Kesulitan tersebut justru seperti candu, makin penasaran makin tak henti kami mengali. Akhirnya mulai terkuak. Kami bersyukur dapat kesempatan ketemu bbrp tokoh ini & dari mereka kami dapat banyak sekali informasi..

Ceritakan hal-hal seru dan lucu selama perjalanan pengarsipan, pasti banyak pengalaman seru saat pengarsipan

Lucu sih tidak ada :p Tapi kalau seru sangat banyak! Bisa sampai minggu depan kalau digosipin semua… hahaha. Cerita pedih juga cukup banyak namun itu setiap itu terjadi justru melecut kami agar lebih fokus dan gigih. Seperti misal terakhir ini, kami kok bisa ketemu satu PH rekaman The Hawaiian Syncopators di New Delhi, India! Lalu ketemu satu PH langka dari pianis Oom Marihot Hutabarat yang bisa nyasar ketemu di Beijing, Tiongkok. Ada lagi PH Jack Lemmers (Lesmana) kami ketemu lagi satu kopi di California, kondisi mint yg jarang banget ada.

Yang pedih justru kala kami tahu ada kolektor punya sesuatu yg kami perlukan tapi tidak diberi akses sama sekali. Beberapa kolektor cupat & egois hingga minta info dikit saja tak digubris. Hal yang pilu karena kami perlu demi ilmu. Namun bersamaan banyak yang bantu kami dus sangat bersyukur. Kami selalu menerima bantuan apa saja dari siapapun. Karena pada dasarnya isi AJI itu ya untuk kita semua yang cinta dan peduli jazz dan tanah air kita Indonesia..

Adakah kesempatan untuk sukarelawan membantu pengarsipan?

Tentu! Bantuan apapun kami terima termasuk sukarelawan. Jika tertarik silahkan hubungi kami kapan saja. Cara termudah hubungi lewat http://www.arsipjazzindonesia.org/?page_id=15 . Beri data diri Anda & jenis bantuan yg dapat diberikan. Atau kami juga terima bantuan materi lainnya sebagai donatur. Infonya bisa dilihat di http://www.arsipjazzindonesia.org/?page_id=276..

Dari semua tokoh jazz Indonesia, siapa yang dokumentasi/arsipnya terbanyak?

Kalau yg dimaksud jumlah rekaman, saya rasa antara Oom Bubi Chen, Oom Ireng Maulana, dan Mas Indra Lesmana. Tapi itu tak semua jazz ya, ada juga rekaman mereka yang sebenarnya musik pop. Yang dimaksud jumlah rekaman di sini adalah yang mereka lepas secara komersil, tidak turut rekaman lain..

Di tempo dulu Jack Lesmana, Bubi Chen dan Ireng Maulana begitu dikenal luas padahal mereka musisi jazz. Apakah saat itu musik jazz digemari dan menyebar begitu luas di berbagai kalangan?

Sejujurnya jazz yang sahih tak pernah menyebar luas dan merasuk sampai ke semua kalangan. Mengapa demikian? “Jazz” yg dikenal di Indonesia kebanyakan justru bukan jazz yang sahih. Ini hal apresiasi sebuah seni. Itulah mengapa bahkan para pemusik jazz sahih akhirnya membuat musik itu lebih ringan agar lebih bisa merakyat. Secara dasarnya ya itu seperti sebuah strategi untuk meleburkan jazz. Namun tak semudah itu lihat dikotominya. Hal itu sebenarnya bukan sesuatu yg disengaja. Pada saat itu musik pop ngejazz seperti itu memang laku dijual. Sebagai seorang musisi, kerjaan apapun kan diterima sebagai nafkah. Jadi musisi jazz main pop itu biasa saja.

Era 70an saya perhatikan dampak terbesar terjadi ketika album2 keluaran CTI atau A&M itu di Amerika mencuat. Itu label yang dimotori musisi & produser jazz tapi dengan sentuhan “merakyat” (pop tanpa melupakan jati diri kreatif).  Indonesia pun kena hembusan itu. Label2 seperti Hidayat hadir dengan berbagai album serupa (dimotori Oom Jack). Tapi di musik itu ada perbedaan antara artis (dalam pengertian seni, bukan bintang film) & pemain musik tok. Oom Bubi atau Oom Jack itu artis sejatinya. Artis dalam pengertian seorang yg mumpuni/maestro dalam suatu hal. Mau main apapun jati dirinya mencuat. Main apapun pasti tak lama keluar cengkok aslinya sebagai artis jazz.

Kalau era Irama beda lagi karena pada era 1950an yang namanya swing jazz itu ya masih sangat kuat pengaruhnya. Dan peranan tokoh seperti Oom Nick Mamahit, dkk sbg house band Irama mau tak mau memberikan sentuhan jazz itu. Walau main lagunya lagu Indonesia, seperti Kopral Djono, terasa cengkok mereka apalagi ketika pas mereka solo. Intinya artis yg bisa fleksibel pandangannya bisa selamat, panjang karirnya dan terkenang sepanjang masa.  Oom Nick dia artis sejati tp fleksibel. Akhirnya main yg lebih terdengar ringan di telinga tapi tetap nyeni.  Itu hebatnya Oom Nick! Ringan tapi tetap nyeni, nggak semua orang bisa seperti itu. Tanda dia artis sejati. Oom Jack dan Bubi pun seperti itu terutama era 70-80an lewat berbagai album pop (dengan cengkok jazz mereka). Begitulah kira-kira pandangan dan tanggapan saya mengenai pertanyaan kamu tersebut..

Apa mimpi besar Arsip Jazz setelah arsip yang dikumpulkan dirasa cukup?

Rasanya sih tak akan pernah cukup karena ini masih bagian dari sebuah proses. Setiap saat kami temukan yg baru. Tetapi di satu hari nanti kami harapkan dapat dibuat sebuah lokasi seperti sebuah perpustakaan pusat lokasi. Dan semoga secepat mungkin kami dapat terbitkan vol.1 buku sejarah jazz Indonesia. Direncanakan total 3 volume. Kami harap kami dapat terus bersumbangsih. Dan semoga kawan2 juga sudi membantu kami menempuh perjalanan ini. Terima kasih banyak kesempatan berbincang malam ini. Semoga ada manfaatnya ya..

Terimakasih banyak @arsipjazz atas perbincangan panjangnya yang menarik ini. Segera saya akan tulis di http://eargasmme.com

Sama-sama. Salam persahabatan jazz!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »